“Apa ?! masa sih ?”
“Iya .. gue serius, bagaimana menurut lu ?”
“Lu mau gue jujur, atau gue bohong ?”
“Ya .. jujur lah !” Lanjutkan membaca ‘12 taun’
“Apa ?! masa sih ?”
“Iya .. gue serius, bagaimana menurut lu ?”
“Lu mau gue jujur, atau gue bohong ?”
“Ya .. jujur lah !” Lanjutkan membaca ‘12 taun’
Mendung !
lekas angkat kain yang ku jemur, (kaos, jeans butut, kutang dan celana dalam)
Petir !
lekas lari dan masuk ke kolong bale
mencari perlindungan
Tidak !
aku tidak bodoh
aku juga tidak dudulz
aku hanya sedang mati gaya
Ya .. !
mungkin karena aku sedang candu
candu cucur !
Sudut Jakarta
Sejatinya Pecandu
Otak : bodoh !! kan sudah aku bilang, jangan pakai hati
aqu : ya … mo gimana lagi dong, Cinta sih
hati : (tersenyum simpul)
Smua bimbang tumpah
Kata demi kata tercecer berantah
Aku mati dalam resah
Mencoba berpuisi … namun entah lah
Aku bimbang entah mengapa
Resah dalam sebuah permainan kata
Seolah kata menjelma makian serapah
Prosaku makin tak berarah
Mungkin ku akan mati tertusuk kata
Aku bimbang tak tau arah
Biarkan aku menghindari prosa
Dan kata tak lagi pedang yang buatku resah
Ah .. sudahlah biar saja
Biar resah ku peluk mesra
Kubiarkan resah mati kata, mati bahasa
Ku pasrahkan … biar semua berlalu saja
Sudut Jakarta 040807
“puisi ini di buat untuk menjawab puisinya Mbak Dira, sebelumnya maaf ya Mbak Dira klo aku gak ijin terlebih dahaulu.”
Sayang ….
Kau memang belum mengenal dia
Parasnya nan ayu, membuatnya terlihat lebih cantik darimu
Semampai tubuhnya membuat khayalku makin tersita olehnya
Sungguh aku mencintaimu
Namun tak ku dustai diri ini juga menyayanginya
Sayang …
Izinkan aku mengharap maafmu
Karena hanya namanya yang selalu ku sebut
Tak henti aku selalu memujanya
Dan ia juga lah yang kerap aku banggakan
Sayang …
Kedekatanku padanya seumpama kata dan puisi
Seperti puisi yang membutuhkan kata
seperti itulah berharganya dia
Namun kau jauh lebih berharga
kau umpama tinta bagi penaku
Namun sayang ….
Cukuplah kau tahu
Semua itu hanyalah simpatiku
Bukan cinta yang sematik
Tak ada maksud hatiku membakar mu dengan cemburu
Sayang …
Kelak bila tiba waktunya, pastilah kau kuperkenalkan dengannya
Tentu dengan harapku setujumu
Bahwa aku memang layak mendekatinya
Selayak ia menerima pujian darimu
Sudut Jakarta 280707
* Masih inget gak Dek ? waktu kecil kan lo suka banget makan rontokan tembok. Pagar rumahnya Bang Dedi yang selalu jadi sasaran.
* Masih inget gak Dek ? waktu kita di kunciin ma Papa, saat itu Papa kerja dan gak ada yang jagain kita di rumah.
* Masih inget gak Dek ? waktu kita malam-malam pergi dari rumah trus kita kerumahnya Mbah Nti jalan kaki, itu semua kita laukukan karena kita kangen Mama. Lanjutkan membaca ‘Happy B’day’
“Cerita ini terinspirasi oleh ceritanya Ima (Memoar Sang Wanita Cantik) dan Dadun (Sayang, Kamu Terlalu Cantik), dan dalam cerita ini Anaknyapapa mengambil dari sudut padang Anakanyapapa sendiri yaitu Nita, yang berperan sebagai keponakanya Roy (dadun).
Namaku Nita, aku gadis berusia 16 tahun dan aku masih duduk di bangku SMA. Seperti pada umumnya gadis seusiaku suka sekali main di Mall, ntah itu belanja atau hanya sekedar nongkrong bareng dengan teman-teman.
Seperti hari minggu kemarin, aku dan beberapa teman-temanku mendatangi sebuah mall ternama di bilangan Jakarta, ada jumpa fans dengan pemain film Mendadak Dangdut di sana. Jujur saja sebenarnya aku tidak terlalu minat dengan acara-acara seperti ini, menonton artis lalu teriak-teriak histeris dan akhirnya minta tandatangan, aduuhhh .. gak banget deh. Tapi karena salah satu temanku penggemar Titi Kamal, jadi mau gak mau aku harus mengikuti kemauanya untuk datang ke mall ini, di tambah lagi dengan imingan temanku, kalau nanti dia akan mentraktir ku makan.
Aku masih asik dengan softdrink dan snack kentang pesananku, sementara kawan-kawanku sudah tenggelam dalam ribuan penonton lainya. Aku tidak suka keramain seperti ini, kalau saja dulunya tidak ada kesepakatan untuk saling setia satu sama lain, mungkin aku sudah lari dari mall ini. Lanjutkan membaca ‘Bencong Taman Lawang’
Komentar Terakhir