01
Jul
07

Bencong Taman Lawang

 “Cerita ini terinspirasi oleh ceritanya Ima (Memoar Sang Wanita Cantik) dan Dadun (Sayang, Kamu Terlalu Cantik), dan dalam cerita ini Anaknyapapa  mengambil dari sudut padang Anakanyapapa  sendiri yaitu Nita, yang berperan sebagai keponakanya Roy (dadun).

 

bencong-tl.jpg

Namaku Nita, aku gadis berusia 16 tahun dan aku masih duduk di bangku SMA. Seperti pada umumnya gadis seusiaku suka sekali main di Mall, ntah itu belanja atau hanya sekedar nongkrong bareng dengan teman-teman.

Seperti hari minggu kemarin, aku dan beberapa teman-temanku mendatangi sebuah mall ternama di bilangan Jakarta, ada jumpa fans dengan pemain film Mendadak Dangdut di sana. Jujur saja sebenarnya aku tidak terlalu minat dengan acara-acara seperti ini, menonton artis lalu teriak-teriak histeris dan akhirnya minta tandatangan, aduuhhh .. gak banget deh. Tapi karena salah satu temanku penggemar Titi Kamal, jadi mau gak mau aku harus mengikuti kemauanya untuk datang ke mall ini, di tambah lagi dengan imingan temanku, kalau nanti dia akan mentraktir ku makan.

Aku masih asik dengan softdrink dan snack kentang pesananku, sementara kawan-kawanku sudah tenggelam dalam ribuan penonton lainya. Aku tidak suka keramain seperti ini, kalau saja dulunya tidak ada kesepakatan untuk saling setia satu sama lain, mungkin aku sudah lari dari mall ini.

****

“Om Roy … om !” aku berteriak sambil melambaikan tangaku keatas, berharap sosok pria yang ku panggil menoleh ke arahku.

“Om … Roy ..!” aku teriak lebih keras, sampai-sampai semua orang menoleh ke arahku. Dengan siapa ya Om roy ?, wanita cantik mana lagi yang kena rayuannya.

“Hai … Nita” akhirnya Om Roy mendengar panggilanku, dan ia memintaku untuk gabung bersamanya. Dengan rasa penasaran tanpa ragu ku hampiri Om Roy dan wanita itu.

“Oh .. my God, wanita yang sekarang duduk di hadapanku cantik banget !” gumamku dalam hati, Om Roy benar-benar pandai memelih gadis untuk di jadikan pacarnya. Tapi aku berani taruhan paling wanita ini hanya bertahan selama tiga bulan, karena menurut sepengetahuanku Om Roy tipe cowok yang gak bisa liat jidat licin.

“Nita” ku ulurkan tanganku

“Marini” jawabnya lembut

Aku dan Marini langsung akrab. Jujur saja menurutku Marini wanita yang sangat cantik, lemah lembut, dan yang paling aku suka dia supel sekali. Tapi entah mengapa tiba-tiba aku merasa wajah Marini tidak asing lagi bagiku.

*****

Om Roy adalah adik dari Papaku, makanya tak jarang Om Roy main atau bahkan menginap di rumahku.

“Om …, Nita denger-denger Om Roy mau nikah sama wanita itu ya? Siapa deh namanya ?” tanyaku saat Om Roy sedang menunggu Papa di teras depan.

“Marini … Marini Fitrianto” jawab Om Roy di sertai senyum manisnya

“Iya .. Om mau menikahi dia, kamu setujukan ?” tanya Om Roy, kali ini ia tampak serius. Maskipun usiaku masih belia, namun tak jarang Om Roy meminta pendapatku.

“Marini itu cantik sih Om … bahkan bisa di bilang cantik banget, dan menurut Nita sih cocok banget buat Om Roy yang setampan ini” Mata Om Roy berkedip-kedip mirip seperti orang cacingan. Om Roy memang suka seperti itu bila sedang ku puji.

“Berarti gak ada alasan kamu untuk gak setuju sama keputusan Om kali ini dong Nit ?” Om Roy tampak semangat.

Sebenarnya tanpa persetujuanku, atau tanpa persetujuan siapapun Om Roy pasti akan tetap menikahi Marini Fitrianto itu, karena menurut sepengatahuanku Om Roy itu tipe Pria yang keras hati, dan bisa di bilang keras kepala juga.

“Emmm … tapi Om … Maaf nih ya, kok kayaknya Nita gak asing lagi deh sama wajahnya Marini itu”

“Maksud kamu Nit ?” Om Roy memebetulkan posisi duduknya, bertanda ia serius menyimak pembicaraanku.

“Iya Om … Om Roy tahu kan, kalau Nita ini punya temen yang tinggal di daerah Taman Lawang” aku mengentikan pembicaraanku, mengambil nafas sejenak untuk melanjutkan pembicaraanku berikutnya.

“Trus … kenapa ?” tanya Om Roy penasaran

“Begini loh Om, kok kayanya wajah Marini pernah ku liat di jejeran bencong-bencong Taman Lawang deh” aku menggaruk kakiku yang gatal karena di gigit nyamuk.

“Ngaco kamu Nit !”

“Nita serius Om”

“Asal kamu tahu ya Nit, Marini itu seorang PR” sepertinya Om Roy marah denganku

“Iya … Nita tahu Om, tapi profesi itu dia jalankan siang harikan? Kalau malamnya manalah Om Roy tahu, mungkin Nita salah, tapi Nita yakin banget Om, beberapa kali Nita melihat wajah Marini kalau Nita lewat Taman Lawang” wajah Om Roy terlihat pucat

“Trus ..ya Om .. Nita juga pernah liat Marini di halte, waktu itu Nita pulang sekolah, kalau gak salah kejadiannya Sore. Lalu Nita liat Marini di hampiri Pria paruh baya, Nita perhatikan marini memeberi secarik kertas pada pria paruh baya itu” Om Roy masih terus menyimak pembicaraanku, mukanya semakin pucat, ku rasa dia belum makan, karena baru saja aku mendengar perutnya berbunyi, menandakan kalau Om Roy lapar.

“Lalu ?” tanya Om Roy datar, dengan mimik muka tanpa ekspresi.

“Lalu … Nita liat tangan Marini merogoh kantong celana bagian belakang Pria paruh baya itu, dan Om tahu gak setelah itu apa yang terjadi .. “ aku menggantung ucapanku, aku suka sekali bila melihat Om Roy penasaran, tampangnya jadi kayak orang blo’on .. hehehehehhehe.

“Terus ?” Om Roy menenggung air putih yang baru saja di bawakan Bi Inem

“Terus .. setelah itu Marini pergi, dan setelah itu selang beberapa menit kemudian, Pria paruh baya itu teriak copeettt … copeett !” aku memperagakan gaya pria paruh baya itu.

Wajah Om Roy masih pucat, tak ada reaksi apapun darinya, Om Roy hanya diam sambil menengguk habis air putih, gayanya minum sudah seperti atlit sepak bola, hehehhehehh.

“Jadi maksud kamu, Marini itu bukan wanita asli, maksud kamu dia bencong ?, trus kamu juga mau bilang kalau Marini itu pencopet ?” wajah Om Roy memerah, dan mirip seperti kepiting rebus

“Itu yang Nita liat Om … Nita cuma gak mau kalau Om Roy kecewa nantinya” aku mencoba menenangkan Om Roy

“Ah … tau apa sih kamu Nit, kamu masih kecil, masih 16 tahun !terserah apa tanggapan orang lain, yang pasti Om akan tetap menikahi Marini Fitrianto !” Om Roy pergi begitu saja. Dengan kasar dia menancap gas mobilnya sangat keras

“Om Roy .. gak jadi nunggu Papa ?”

“Salam saja buat Papamu Nit” Om Roy pulang, mungkin dengan hati kesal.

“Ya .. terserah Om aja deh, Nita cuma kasih info, di terima syukur gak di terima ya sukurin. Kita liat aja nanti kalau Om Roy dah kawin sama si Marini, pasti Om Roy bakal di ajak adu pedang kayak main anggar .. hehehheh” aku bicara sendiri. Setelah mobil Om Roy menghilang di tikungan jalan, aku bergegas masuk ke dalam rumah, menutup pintu serta menguncinya.


5 Tanggapan ke “Bencong Taman Lawang”


  1. Juli 3, 2007 pukul 11:54 am

    ikh.. nita umur brapa sih?
    klo ketauan ama bencong yang lagi nyamar
    bisa diisep ubun ubunmuu lho..!!
    hehehehe…

  2. Juli 9, 2007 pukul 10:08 am

    ha ha ha, ternyata kamu yang nulis toh?

  3. Juli 11, 2007 pukul 2:23 pm

    hiiii vie, itu fotonya ngeri

  4. September 2, 2008 pukul 2:47 am

    Kebetulan aku lagi nyari topik tentang bencong taman lawang dan ketemu juga disini.

  5. November 28, 2008 pukul 6:10 am

    boongan………………mana ada !


Tinggalkan Balasan