Seperti inilah setiap malamnya, aku dan istriku suka sekali duduk-duduk di halaman samping rumah. Membicarakan apa saja yang sudah terjadi di hari ini. Istriku adalah wanita yang sangat mengerti aku, dan sejauh ini dia tak pernah membuatku kesal.
“Mas … sudah malam banget nih, tidur yuk … Nisa sudah ngantuk”. Istriku menguap sepertinya dia sudah letih sekali. Sampai-sampai kulihat butiran air di ujung matanya.
Akupun menggandeng mesra Nisa untuk masuk ke dalam kamar.
“Mas kapan kita pergi ke Laut”, sepertinya Nisa menagih janjiku
“Gak tahu … mas juga pingin sih, tapi mas belum punya uang sayang” Aku menatap mata sayu istriku Nisa.
Nisa tersenyum manis, lalu ia memeluku sesaat. Ada kehangatan yang dia tularkan ke dalam tubuh ini. Aku merasakan begitu nyaman, walau hanya sesaat.
“Ya .. sudah gakpapa kok mas”, Nisa melepaskan pelukannya.
“Lagian apa bedanya laut dengan kali yang ada disamping rumah kita” Nisapun tertawa.
“Ya .. beda dong sayang”, ku cubit pipit Nisa yang memerah
Nisa beranjak dari tempat tidur, ia hendak mengganti bajunya dengan pakaian tidur. Nisa adalah tipe wanita yang pandai menyenangkan hati suami. Aku bersyukur mendapatkan seorang wanita seperti dia.
“Mas … mas Gandi sayangkan sama Nisa?”,Tanya Nisa tiba-tiba. Alis mataku sedikit terangkat. Pertanyaan biasa memang, namun sangat dalam.
Tak berapa lama, Nisa duduk di sampingku sambil kembali menyisir rambutnya yang hitam panjang dan bergelombang.
“Insyaallah sayang .. selama Nisa rajin mengaji, rajin sholat dan selalu mendoakan mas Gandi, mas akan selalu menyayangi Nisa”.
Aku menjawab pertanyaan Nisa sambil memainkan jemariku di atas lembar-lembar mahkota indahnya itu.
Nisa tampak malu. “Nisa juga gak akan meninggalkan mas Gandi, Nisa sayaaaaang sekali sama mas”, Sahut Nisa sambil merebahkan tubuhnya di sampingku.
Kami sudah berada di atas tempat tidur, merebahkan tubuh, merenggangkan otot-otot yang tegang akibat letihnya melakukan aktifitas siang hari tadi. Aku sendiri, membiarkan beberapa anggota tubuhku menyentuh hangatnya tubuh Nisa sesaat. Tak terkecuali bibirku yang mengecup keningnya mesra, sebelum aku benar-benar menikmati berbaring di atas kasur empuk itu.
“Mas Gandi sudah tidur ya”. Sepertinya Nisa masih ingin berbincang-bincang.
“Iya … ada apa sayang, mas belum tidur kok”, aku merubah posisi tidurku agar lebih dekat menghadap ke Nisa.
“Nanti kalau di surga mas sudah dapat 72 bidadri, Nisa sama siapa dong”, mata Nisa berkaca-kaca. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya yang tak biasa.
“Kan Nisa yang ke 73nya, dan Nisa gak usah khawatir yang 72 bidadari itu pasti kalah cantiknya dengan Nisa. Dan Allah tidak akan membuat hatimu cemburu sayang … percayalah”. Ku kecup kening Nisa, dan Nisapun tersenyum senang.
“Ya .. sudah, sekarang kita tidur ya, nanti kita gak bisa bangun untuk sholat Tahajud”,
Ku matikan lampu kamar, dan menarik selimut. Nisa kembali tersenyum dia merebahkan kepalanya di atas dadaku.
Malam yang indah terasa menarik dari hari ke hari, sejak aku mengenal wanita ini. Semoga minggu depan aku bisa mengajak Nisa jalan-jalan ke laut, seperti yang dia inginkan selama ini, aku berharap… sangat berharap.
QS Al Furqaan :16
Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya).
mo minta apa aja pasti dikasih
QS Al Mu’min :40
Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.
dan ga da batasan jumlah
jadi mo minta apa aja n berapapun semau lu, kasih dah………….
mau minta 72/720/72 x 10^100 bidadari silahkan saja